RINGKASAN BAB III PERSPEKTIF/CARA PANDANG (PERSPECTIVE), TEORI DAN PARADIGMA DALAM PEMBANGUNAN: SUATU ANALOGI TIGA BAGIAN DALAM SATU BANGUNAN KOKOH. Penulis: Prof.Dr.Syarif Ibrahim Alqadrie,M.Sc

BAB III
PERSPEKTIF/CARA PANDANG (PERSPECTIVE), TEORI DAN PARADIGMA DALAM PEMBANGUNAN: SUATU ANALOGI TIGA BAGIAN DALAM SATU BANGUNAN KOKOH.

72295198-43fd-45b5-a22a-b3f81a703ea7

ABSTRAK
Penulis ingin menunjukan bagaimana dan dengan menggunakan atau melalui cara apa seorang peneliti atau ilmuwan memandang, memahami, dan menyikapi atau menilai fenomena atau masalah social tertentu. Karena setiap peneliti, penulis dan ilmuwan tentu saja memiliki cara pandang berbeda, tidak sama antar satu dengan lainnya dalam memahami dan menyikapi fenomena social atau proses pembangunan.
Teori-teori dalam ilmu pengetahuan pada tiga masa penting dalam sejarah kehidupan social, ekonomi, dan politik di eropah memiliki kedudukan, karakter, dan peranan mereka berdasarkan periode masing-masing. Sesuai dengan penamaan yang diberikan oleh para ahlisejarah terhadap tiga periode itu, yaitu masa kebangkitan (renaissance era), masa Pencerahan (enlightment era) dan masa kini (temporary era) teori-teori yang dilahirkan dalam tiga periode itu juga berkembang sesuai dengan perkembangan masa itu.
Kata Kunci: Fenomena social, renaissance era, enlightment era, temporary era

Syarif Ibrahim Alqadrie, 2017, seperti tercantum pada BAB III Perspektif/cara pandang (Perspective), teori dan paradigma dalam pembangunan: Suatu analogi tiga bagian dalam satu bangunan kokoh, halaman 31-70 , dalam buku berjudul Teori Pembangunan Dunia Ketiga: Konsep, Perseptif, Aliran, Paradigma, Strategi dan Idiologi, menjelaskan 3 (tiga) unsur /entitas dalam dunia akademis yaitu cara pandang keilmuan atau perspektif, teori dan paradigm. Ketiga unsur iru merupakan tiga bagian dalam suatu bangunan kokoh yang saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan namun menjalankan fungsi masing-masing.

Alkadrie menyebutkan ada 7 (Tujuh) bentuk Perspektif sebagai cara pandang terhadap fenomena social antara lain: Cara Pandang Budaya (cultural perspective), Cara pandang mental, moral, dan psikologis (psychological, moral dan mental perspective), cara pandang bukan budaya ( non-cultural perspective), Cara pandang Politik (Political Perspective), cara pandang ekonomi (economic perspective), cara pandang dari aspek penduduk (demographical perspective), dan cara padang Geografis (geographical perspective).

Dari 7 (tujuh) bentuk perspektif diatas, Alkadrie ingin menunjukan bagaimana dan dengan menggunakan atau melalui cara apa seorang peneliti atau ilmuwan memandang, memahami, dan menyikapi atau menilai fenomena atau masalah social tertentu. Karena setiap peneliti, penulis dan ilmuwan tentu saja memiliki cara pandang berbeda, tidak sama antar satu dengan lainnya dalam memahami dan menyikapi fenomena social atau proses pembangunan. Satu fenomena social tertentu misalnya tentang pembangunan dan atau kemiskinan, kongkritnya tentang berhasil tidaknya kegiatan pembangunan dapat dilihat dari 7 (tujuh) perspektiv tersebut.

Alkadrie mengemukakan, perspektif berkaitan erat tidak saja dengan konsep, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan teori. Kearah mana teori atau aliran seseorang atau suatu kelompok berorientasi, akan lebih jelas kalau fenomena social yang di fahami itu berujud dalam konsep yang jelas, misalnya pembangunan social, ekonomi atau politik. Secara akademis murni, perspektif, aliran dan teori adalah tiga hal yang memiliki karakter berbeda. Sebagai sesuatu yang melandasi perspektif, teori adalah rangkaian proposisi dan mengandung suatu pandangan sistematis terhadap fenomena. Teori dapat juga diartikan sebagau suatu hubung sistematis antara dua fakta atau lebih.

Menurut Alkadrie, teori adalah seperangkat asumsi dan preposisi yang menghubungkan dua variable atau lebih secara sistematis untuk memahami, menjelsakan dan meramalkan gejala yang diamati. Jika dikaitkan dengan pembangunan, maka sampailah kita pada pemahaman tentang apa itu teori pemabangunan. Teori pembangunan adalah seperangkat atau serangkaian asumsi, preposisi tentang proses pembangunan dalam rangka memahami, menyikapi dan meramalkannya.
Lebih jauh Alkadrie menjelaskan, secara akademis teori dikelompokkan ke dalam 2 (dua) kelompok bidang keilmuan. Yaitu: (1) Teori dalam Ilmu Eksak/Ilmu Pasti dan (2) Teori dalam Ilmu Humaniora. Akan halnya teori pembangunan sebagaian terbesarnya berkaitan dengan hal-hal bukan fisik material seperti pembangunan social, budaya, mental, moral dan spiritual dan pembangunan lingkungan. Jadi, indikasi atau kriteria berhasil tidaknya pembangunan lebih tergantung pada peningkatan atau perbaikan bidang dan sektur di luar material dan fisik. Namun, itupun akan tetap dipengaruhi oleh teori dan perspektif yang mendorong terciptanya kebijakan yang berpihak pada masyarakat kecil.
Akhirnya menurut alkadrie, Teori-teori dalam ilmu pengetahuan pada tiga masa penting dalam sejarah kehidupan social, ekonomi, dan politik di eropah memiliki kedudukan, karakter, dan peranan mereka berdasarkan periode masing-masing. Sesuai dengan penamaan yang diberikan oleh para ahlisejarah terhadap tiga periode itu, yaitu masa kebangkitan (renaissance era), masa Pencerahan (enlightment era) dan masa kini (temporary era) teori-teori yang dilahirkan dalam tiga periode itu juga berkembang sesuai dengan perkembangan masa itu.

Diresume oleh Dominikus Okbertus Srikujam, S.sos
untuk matakuliah Politik Desentralisasi dan Otonomi Daerah
Program Magister Ilmu Politik
Universitas Tanjungpura

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*