Kejahatan atau Keburukan (Sebuah pandangan moral Kasus Fidelis Ari)

IMG-20170407-WA0007Apa itu yang jahat? Kita mengenal, mengalami, bahkan terkadang melakukan kejahatan. Namun, apakah seekor anjing yang menggigit seseorang sampai berdarah itu bisa disebut kejahatan? Bagaimana dengan manusia yang menipu sesamanya dengan tindak korupsi, bahkan pembunuhan? Apakah itu kejahatan?
Dalam dunia filsafat, sebuah kejahatan terjadi ketika ada kehendak bebas. Anjing yang menggigit seseorang sampai berdarah tidak bisa dikatakan jahat, karena anjing tidak memiliki kehendak bebas. Yang ada hanya dorongan insting untuk bertahan, menyerang atau menghindar. Maka apa yang dilakukan anjing itu adalah bertindak atau berlaku buruk. Mengapa buruk? Karena spontan menanggapi situasi (instingtif). Terwujud tanpa kehendak bebas, tidak dipikir dan direncanakan. Tidak ada kesadaran akan tanggungjawab.
Kemampuan berkehendak bebas hanya dimiliki oleh manusia. Dengan akal budinya, manusia dapat menimbang, merencanakan dan memutuskan. Erick Fromm mengatakan, kemampuan manusia untuk berpikir (akal budi) menyebabkan manusia terpisah dari alam ciptaan. Dengan kehendak bebasnya, manusia bisa melawan cuaca dingin dengan membuat api, membuat pakaian dan berlindung dalam gua (rumah). Dengan akal budinya, manusia bisa bertindak jahat, juga bisa bertindak baik. Di sini, kemampuan manusia untuk menimbang, merefleksikan menjadi sangat penting.

Penilaian moral jahat atau buruk ini dapat kita kenakan pada sosok Fidelis Ari. Sosok seorang suami yang melakukan tindakan untuk menyelamatkan (merawat) istrinya yang sedang sakit.
Pertama, tindakan menanam ganja diakui Fidelis Ari , dilakukan karena desakan kebutuhan (istri yang sakit). Oleh karena itu, bisa dikatakan, tindakan ini dilakukan tidak dengan kehendak bebas dari yang bersangkutan. Pelaku tidak menggunakan ganja tersebut untuk dirinya sendiri, dan juga tidak mengedarkannya untuk orang lain (hanya untuk istrinya). Dalam pandangan K. Lorenz, yang dilakukan Fidelis Ari sebenarnya tidak lain dari pada agresi alamiah yang kadang mau-tidak-mau harus dinyatakan. Agresi ini semacam naluri/insting yang bermanfaat pada binatang. Tindakan menanam ganja tidak lain dari pada agresi yang salah arah. Buruk, tetapi belum tentu jahat.
Kedua, ganja tersebut diambil ekstraknya. Ilmu kedokteran Indonesia sendiri belum dapat menjawab apakah ekstrak ganja bisa menyembuhkan atau hanya untuk menghilangkan rasa sakit? Untuk sebuah sarana (ekstrak ganja); belum diketahui baik-buruk penggunaannya, diperlukan sebuah kepastian (penelitian lebih lanjut). Sebab, kita tidak dapat mengklaim sebuah tindakan itu jahat tanpa mengetahui terlebih dahulu apakah sarana digunakan dengan buruk atau tidak? Bahkan dalam dunia kedokteran, sarana yang paling buruk sekalipun dapat digunakan untuk mencapai kebaikan yang lebih tinggi, misalnya, amputasi pada penderita diabetes.
Ketiga, kejahatan muncul ketika ada perencanaan, perbuatan sadar serta bebas yang menimbulkan akibat buruk. Jika perencanaan kehendak bebas itu menggunakan sarana yang buruk untuk mencapai yang baik, maka hal itu tidak serta-merta sebagai kejahatan. Memang pada prinsipnya, tujuan yang baik, harus menggunakan sarana yang baik pula. Namun, sebuah pohon petai yang meranggas pun masih dapat menghasilkan buah yang baik. Seperti sebuah pohon dikenal dari buahnya. Sebuah tindak kejahatan baru dapat dipastikan setelah nyata sarana dan efek buruknya.
***
Dalam tradisi gereja katolik, Thomas Aquinas mengatakan, yang jahat adalah privatio boni, artinya kurangnya yang baik. Tuhan tidak (bisa) menghendaki adanya yang jahat, tetapi ada nilai yang lebih tinggi yang dapat tumbuh dari kejahatan.
Fidelis Ari memang layak “ditegur” karena menggunakan sarana yang buruk. Namun, kita juga harus ingat, bahwa dia “kekurangan” sarana yang baik untuk mengobati istrinya, maka munculah sarana yang buruk. Oleh karena itu “teguran” yang diberikan perlulah didasari oleh rasa prikemanusiaan, berbela rasa (empati) dan menjadi bahan pembelajaran bagi kita bersama.
Akhirnya, dengan kehadiran yang buruk, yang jahat; kita diajak untuk memandang yang baik, yaitu Tuhan Sang Sumber Kebaikan. Dan semoga kita juga berani berkurban, meskipun pahit, demi nilai-nilai yang lebih tinggi, nilai yang mungkin saat ini belum dapat kita pahami bersama.
RD. Severyanus Ferry
Rohaniwan

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*