Suryadman Gidot, Sosok pemimpin yang rendah hati

 

Oleh : Stepanus Wiwin, S.Th

12-05-26-small_42suryadman gidot
Suryadman Gidot,M.Pd (Bupati Bengkayang)

Jika menyebut nama Suryadman Gidot yang saat ini kembali menjabat Bupati Bengkayang, maka yang terbayang dibenak saya adalah sosok seorang pemimpin yang rendah hati dan sangat menghargai orang lain. Tampilan seorang pemimpin dengan pancaran wajah yang tenang, sabar, antusias dan hangat dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain tanpa sedikitpun menonjolkan kesombongan. Ia adalah seorang pemimpin yang mampu menghargai orang lain tanpa melihat status dan derajatnya di masyarakat.

 

Saya secara pribadi sejak mahasiswa sudah sangat mengenal baik tentang bapak Suryadman Gidot, dan sangat dekat dengan kalangan muda. Bagi saya bapak Suryadman Gidot adalah orang yang baik dalam pergaulan dan interaksinya dengan orang lain. Sosok pribadi Suryadman Gidot adalah menginspirasi untuk diteladani pengaruh ketenangan jiwanya, kejujuran hatinya, dan ketulusan wataknya. Dalam kesehariannya ia selalu tampil selaku sosok manusia yang berwajah tenang, halus budi bahasanya dan sangat simpatik dalam gerak penampilannya. Senantiasa tampil selaku pribadi sederhana, yaitu sederhana dalam cara berpikirnya dan sederhana dalam cara hidupnya. Sederhana, tidak dalam arti dangkal. Melainkan sederhana dalam arti mendalam. Lurus dan tidak berliku-liku. Wajar adanya. Tidak dibuat-buat.

 

Dalam pengamatan saya selaku generasi muda di Kalimantan Barat dalam kepemimpinannya, bapak Suryadman Gidot adalah pemimpin yang mencintai rakyatnya bukan ditakuti. Pak Gidot senantiasa tampil dan hadir menjadi serupa dengan rakyat yang dipimpinnya, hidup hemat dan sederhana. Berbicara dengan bahasa rakyat dan berpenampilan seperti rakyat biasa.

 

Pak Gidot juga seorang pribadi yang setia. Setia kepada cita-citanya. Setia kepada keyakinannya. Keyakinan dibidang politik dan kemasyarakatan. Setia dalam arti tidak tergoyahkan, lurus dan tidak berliku-liku.

 

Kesederhanaan dan kesetiaan demikian itu tidak mungkin, kalau tidak disumberi oleh sesuatu di dalam diri pribadinya. Sesuatu itu adalah iman yang teguh, dan yang selalu memancar dalam tingkah laku hidupnya, baik sebagai pribadi maupun sebagai kepala daerah dan pimpinan partai politik. Tingkah laku hidupnya itu selalu diiringi oleh rasa terpanggil untuk sesuatu kewajiban dan rasa tanggung jawab yang sangat mendalam.

 

Sekalipun pak Gidot adalah orang Bengkayang, namun tak pernah tercermin sedetikpun rasa seakan-akan terkotak-kotakan. Ia mampu hadir selaku seorang pengayom bagi orang dari daerah lain maupun bagi suku yang lain. Ia sudah jauh meningkatkan diri pribadinya selaku sosok nasionalis, tanpa kompleks apapun, di tengah-tengah pertumbuhan persaudaraan di Kalimantan Barat maupun Indonesia secara umum.

 

Masih saya ingat pada bulan Mei tahun 2012 saat kami akan menghadiri Konsultasi Nasional mahasiswa di Palu. Kami mengirim SMS kepada pak Gidot untuk minta dukungan dana, beliau malah mengantar sendiri bantuannya untuk kami di Pontianak. kejadian ini adalah hal kecil saja. Tetapi dalam hubungan saya dengan pak Gidot, saya melihat roman mukanya yang tulus untuk membantu dan punya harapan agar generasi muda terus menempa diri agar dapat menjadi penerus dalam kepemimpinan dan kiprah pembangunan.

 

Dalam kiprah politik, pak Gidot pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Bengkayang, Wakil Bupati dan sekarang telah periode ke dua menjadi Bupati Bengkayang serta pernah menjadi ketua partai politik. Dalam mencapai karier politik tersebut, pak Gidot mempunyai cara-cara sendiri. Ulet dalam pendirian, tetapi murah dalam senyum. Tidak meninggalkan kawan, apalagi menjegal kawan sendiri dalam kesulitan dan bahaya apapun. Kita melihat sendiri saat pemilihan Bupati Bengkayang yang digelar 9 Desember 2015 kemarin, banyak himpitan dan penjegalan yang beliau alami tapi dari semua itu diterima dan dijalaninya dengan kesabaran dan ketekunan tanpa sedikitpun membuatnya dendam dan benci, yang ada adalah memaafkan dan mengayomi.

 

Itulah pengamatan pribadi saya terhadap sosok pak Gidot. Karena itu saya selaku generasi muda di Kalimantan Barat punya harapan dan keyakinan agar beliau  menjadi Gubernur Kalimantan Barat periode 2018-2023 untuk melanjutkan estafet kepemimpinan pak Cornelis. Saya berharap agar rakyat Kalimantan barat mampu memilih pemimpin yang rendah hati yang sungguh-sungguh mencinta rakyatnya.

 

Itulah pemimpin yang saya harapkan baik secara pribadi maupun selaku bagian dari masyarakat Kalimantan Barat dalam mencari dan memformat kepemimpinan di daerah ini. Semoga pemimpin yang rendah hati seperti pak Gidot inilah yang dipilih oleh rakyat dalam perhelatan Pemilihan Gubernur Kalbar nanti, agar Kalimantan Barat dapat semakin baik dalam pembangunan dan mengayomi semua pihak.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*