PILIH PEMIMPIN YANG KREDIBEL

Oleh: Stefanus Wiwin,S.Th

944378_941549159215928_3065246722381967920_n

 

Secara luas masyarakat Indonesia dan mereka yang tinggal di tujuh kabupaten yang ada di Kalimantan Barat telah mengetahui tanggal 9 Desember 2015 akan diselenggarakan momen penting berupa perhelatan secara serentak pemilihan kepala daerah di seluruh Indonesia. Perhelatan pemilihan kepala daerah secara serentak ini adalah sejarah baru di republik ini untuk memeilih dan menentukan kepala daerah sesuai dengan pilihan rakyat. Di warung kopi, di pasar-pasar, di rumah-rumah warga dan ditempat berkumpul lainnya perihal pilkada ini telah menjadi pembicaraan hangat. Media massa baik cetak dan elektronik juga telah gencar memberitakannya, demikian juga berbagai lembaga kajian telah mulai bergerak untuk membedah trik-trik bagi kemenangan calon yang maju dalam pilkada maupun menyoroti tentang proses pilkada yang akan segera berlangsung.

 

Ditengah momen akan dilangsungkannya Pilkada serentak ini, bangsa kita tengah menghadapi berbagai permasalahan yang bersifat multi-dimensional, sudah berlarut-larut dan bersifat lingkaran setan.

 

Sejak reformasi digulirkan, memang secara umum bangsa kita telah banyak mencapai kemajuan yang lebih baik, dengan ukuran income per capita yang lebih tinggi dan kesempatan memperoleh pendidikan lebih merata, akan tetapi kalau disimak lebih mendalam ternyata masih banyak anggota masyarakat yang kecewa terhadap kinerja pemerintah. Misalnya, karena tingkat kesenjangan sosial semakin besar, tata kota yang tidak beraturan, dan kinerja administrasi negara sebagai penyelenggara pelayanan publik yang jauh dari memuaskan. Keadaan ini bertambah parah karena praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) masih merajalela.

 

Kita khawatir dan jangan sampai Indonesia terjangkit Nigeria Syndrom yakni situasi saat seluruh anggota masyarakat berpikir pragmatis dan menunggu kesempatan untuk dapat melakukan korupsi. Korupsi di Indonesia, sejauh ini telah menyebabkan ekonomi biaya tinggi yang menghambat upaya pembangunan, menambah kepincangan sosial, dan menggerogoti daya saing produk Indonesia di pasar global maupun di dalam negeri sendiri.

 

Merosotnya nilai integritas (kejujuran), kurangnya meritokrasi, perilaku yang sangat rule driven daripada mission driven, kurang menghargai efisiensi, merosotnya nilai nasionalisme dan meningkatnya orientasi particularistic (seperti orientasi sukuisme, fanatisme agama, dan perkoncoan), serta masih dominannya pola pikir linear dan mempertahankan status quo dari pada pola pikir yang dinamis dan menginginkan perubahan yang menyeluruh. Beberapa hal itu merupakan berbagai kompleksitas permasalahan yang dialami bangsa kita.

 

Menyaksikan betapa kompleksnya masalah yang dialami oleh bangsa kita, menunjukan bahwa bangsa kita sedang dalam keadaan “rusak”. Jika sedang dalam keadaan rusak, maka yang rusak tentu mesti diperbaiki. Jika yang rusak adalah barang, mesti dicarikan tukang yang tepat supaya diperbaiki agar dapat kembali menjadi baik. Karena yang rusak ini adalah suatu bangsa, maka mesti dicari “tukang” yang tepat untuk memperbaikinya yaitu sosok pemimpin yang dapat memperbaiki masalah yang dialami oleh bangsa Indonesia. Sosok tukang yang diharapkan adalah tukang yang baik yang memiliki jiwa negarawan. Seorang negarawan selalu mendahulukan kepentingan nasional atau kepentingan rakyat banyak.

 

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang kredibel, yakni yang bisa dipercaya oleh semua konstituennya. Kredibilitas merupakan modal terpenting dalam kepemimpinan. Seorang pemimpin yang kredibel inilah yang kita harapkan dapat muncul di Indonesa, khususnya dalam Pilkada serentak ini masyarakat Indonsia khususnya yang ada di tujuh kabupaten di Kalimantan Barat. Para pemilih mestinya mampu menilai dari setiap calon kepala darah apakah dia seorang yang kredibel atau tidak. Alasan kita mesti memilih calon kepala daerah yang kredibel karena sosok pemimpin seperti ini akan bertumpu pada tiga alas pilar, yakni integritas, otoritas dan kapabilitas.

 

Selain kredibel, kita juga perlu memilih pemimpin yang mencintai rakyatnya bukan ditakuti. Pemimpin seperti ini senantiasa tampil dan hadir menjadi serupa dengan rakyat yang dipimpinnya, hidup hemat dan sederhana. Berbicara dengan bahasa rakyat dan berpenampilan seperti rakyat biasa.

 

Dalam kompleksnya permasalahan bangsa ini, kita memerlukan pemimpin yang mempunyai kapasitas membangun motivasi inspirasional di kalangan anggota organisasi dan anggota masyarakat pada umumnya. Disamping itu juga harus mampu memberi stimulus intelektual kepada para pengikutnya. Pemimpin kedepan harus mampu membawa perubahan untuk mempengaruhi dan mengubah nilai, keyakinan dan pola pikir yang dominan dalam masyarakat yang dipimpinnya, dari budaya yang tidak kondusif menjadi budaya yang lebih sesuai dengan good governance.

 

Harapan kita semua baik saat ini dan masa-masa yang akan datang adalah, rakyat mampu memilih pemimpin yang kredibel yang sungguh-sungguh mencinta rakyatnya. Pemimpin yang terpilih merupakan sosok-sosok nasionalis yang terpanggil untuk memperbaiki bangsa ini. Dengan demikian kita harapkan bangsa ini bisa terlepas dari suatu “kerusakan” yang kompleks. Para calon-calon kepala daerah yang terpilih adalah pilihan rakyat. Bagi yang terpilih, rakyat mengharapkan agar dapat menjadi pemimpin sejati yang memiliki peran dalam menciptakan pandangan hidup masyarakat. Mampu bertindak selaku simbol moral bagi masyarakat. Mengekspresikan nilai-nilai yang mempersatukan masyarakat. Memahami dan mengutarakan sasaran-sasaran yang mengangkat orang keluar dari kepicikan, membawa mereka mengatasi konflik-konflik yang memecah belah, dan menyatukan masyarakat untuk mengejar tujuan-tujuan yang patut mereka upayakan dengan sebaik-baiknya.

 

Itulah pemimpin yang kita harapkan untuk memperbaiki rusaknya bangsa ini, yaitu sosok pemimpin yang kredibel. Semoga para calon pemimpin yang kredibel inilah yang dipilih oleh rakyat dalam perhelatan Pilkada serentak tanggal 9 Desember 2015 nanti, agar Indonesia dapat diperbaiki kembali untuk dapat mencapai suatu negara yang adil dan makmur sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945.

(Penulis adalah Bendahara Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPD-GAMKI) Kalbar periode 2013-2016, alumni Sekolah Tinggi Agama Kristen Abdi Wacana (STAK-AW) Pontianak dan bekerja selaku Tenaga Ahli DPR-RI.)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*