MENAMPI CALON BUPATI

Oleh: Stefanus Wiwin,S.,Th

944378_941549159215928_3065246722381967920_n

Sesuai dengan UU bahwa pemilihan kepala daerah dilaksanakan secara langsung, umum, bebas dan rahasia oleh rakyat sesuai dengan yang diusung atau dicalonkan oleh partai politik. Memilih kepala daerah yang sesuai dengan harapan rakyat untuk memberikan keadilan dan kesejahteraan amatlah sulit. Sebab yang ada dan menjadi realitas kehidupan saat ini adalah pemimpin lebih banyak mengutamakan kepentingan kelompok dan mengesampingkan kepentingan rakyat. Dalam waktu dekat ini di Kalimantan Barat akan dihelat pemilihan Bupati dan Wakil Bupati di enam kabupaten. Tentu saja untuk meyakinkan pendukungnya atau konstituen, para calon tersebut telah menyiapkan strategi jitu agar mendapat dukungan dan simpatik dari rakyat.

Untuk memilih dan meyakini tingkat loyalitas dan keberpihakan para calon bupati dan wakil bupati kepada rakyat memang sulit karena masing-masing mereka dan para tim suksesnya telah menyiapkan strategi agar mendapat simpatik yang disertai dengan bumbu-bumbu manis berupa janji apabila terpilih. Karena memang sulit untuk memilih pasangan calon bupati dan wakil bupati yang ideal, maka saya mengumpamakan memilihnya tersebut seperti orang menampi padi. Padi yang telah dirontokkan dari tangkainya bercampur antara biji yang bernas dan yang hampa, dilihat secara sekilas bentuk fisiknya sama. Untuk memisahkannya memerlukan pekerjaan dengan ditampi sehingga diperoleh biji padi yang bernas. Biji yang bernas inilah kemudian disimpan kemudian digiling menjadi beras.

Berangkat dari pemahaman menampi padi tersebutlah memungkinkan bagi kita untuk dapat memilih pasangan calon bupati dan wakil bupati yang ”bernas”. Sebab calon yang bernas tersebutlah yang akan mendatangkan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat. Berikut ini paling tidak ada beberapa sisi yang dapat dipahami dalam memilih calon bupati dan wakil bupati bernas yang sebentar lagi dihelat di daerah ini.

Pertama, calon bupati dan wakil bupati yang tepat untuk memimpin adalah mereka yang memiliki sikap nasionalisme, menjunjung tinggi Pancasila dan UUD 1945. Calon bupati dan wakil bupati seperti ini adalah mereka yang menarik simpatik para konstituennya tidak berdasarkan isu-isu agama dan etnis tetapi lebih kepada kualitas diri dan kemampuan untuk memimpin sebagai orang Indonesia yang mempunyai hak untuk dipilih sebagai kepala daerah.

Kedua, tidak merangkul konstituen berdasarkan politik uang. Calon Bupati dan Wakil Bupati yang menarik simpatik konstituen dengan membagi-bagikan uang adalah suatu sikap yang menodai pembelajaran politik dan demokrasi. Sebaiknya masyarakat harus bersikap kritis apabila menjumpai adanya praktik politik uang, dengan jalan tidak memberikan hak suara kepada pasangan yang bersangkutan dan melaporkannya kepada pihak yang berwajib agar dapat diproses secara hukum. Jika politik uang terus dibiarkan di negeri ini sama juga berarti kita kompromi untuk mendukung kepala daerah atau pemimpin yang korup dan membuka peluang tercerabutnya rasa nasionalisme sehingga tidak akan dijumpai lagi pemimpin yang memiliki integritas serta berjiwa negarawan. Karena itu, pemilihan kepala daerah di enam kabupaten di Kalbar ini harus menghasilkan Bupati dan Wakil Bupati yang bermoral tinggi, yang mau melihat ke bawah dan menjadi pengayom. Jadikan pemilihan calon bupati dan wakil bupati ini menjadi pemilu yang bersih, adil, bebas dari money politic dan tidak hanya sekedar pesta demokrasi saja.

Ketiga, calon Bupati dan Wakil Bupati adalah pasangan yang tampil dengan visi, misi dan program yang konkret untuk masyarakat. Pemilih harus melihat kapabilitas dan kualitas pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati yang ditawarkan atau diusung oleh partai politik. Percuma menawarkan visi, misi dan program yang menjulang setinggi langit kalau ternyata pasangan tersebut tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk mengimplementasikan visi, misi dan programnya.

Keempat, calon Bupati dan Wakil Bupati adalah pasangan yang mampu untuk menciptakan dan memelihara keseimbangan antara kuasa dan keadilan, sehingga terbuka kesempatan seluas-luasnya bagi setiap warga negara Indonesia untuk berkembang menjadi dan bertindak sebagai warganegara yang bertanggungjawab.

Kelima, pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati haruslah orang yang mampu dan memiliki tekad untuk membangun generasi muda melalui pendidikan. Hal ini sangat penting karena generasi muda kedepan harus mengutamakan pendidikan. Negara dalam hal ini kepala daerah harus mati-matian memberikan anggaran untuk pendidikan. Negeri ini tidak akan maju jika tidak mengutamakan pendidikan. Calon kepala daerah harus mempu memberikan ruang kepada generasi muda untuk memperbanyak ilmu pengetahuan, memperkuat mental, fisik, serta menciptakan karakter kepribadian yang kuat agar dapat menjaga persatuan, kesatuan dan martabat bangsa.

Keenam, memiliki komitmen untuk tidak menjadikan jabatan sebagai ajang cari uang. Pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati hendaknya memiliki komitmen untuk kepentingan rakyat banyak bukan uang. Jika orang-orang yang duduk di pemerintahan hanya mencari uang saja, maka kesejahteraan rakyat tidak akan pernah tersentuh. Hendaknya yang mencalonkan diri menjadi Bupati dan Wakil Bupati adalah orang yang memiliki keinginan untuk mengembangkan daerahnya menjadi produktif dan memiliki SDM yang berkualitas yang bisa bersaing dengan daerah lain dengan memperbaiki kehidupan masyarakat.

Ketujuh, menjadi sahabat rakyatnya. Pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati haruslah sosok yang mampu menjadi rekan dalam suka dan duka karena memahami persoalan kemiskinan, kebodohan, kelaparan, dan ketertinggalan peradaban rakyatnya. Mereka adalah pasangan yang telah teruji memperlakukan orang lain sebagai keluarganya. Tahu persis kebutuhan masyarakatnya dan mampu memberi jalan keluar atas segala krisis kehidupan. Menjadi teladan dalam hidup sehari-hari, mau menderita bersama masyarakatnya.

Kedelapan, memiliki integritas. Pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati bukan hanya pada waktu mau pilkada saja berkampanye melalui tayangan iklan, baleho, kalender, maupun media yang lainnya dengan mengobral janji-janji manis. Pasangan yang berintegritas mengetahui bahwa pemimpin yang besar adalah amanah. Kepemimpinan adalah amanah, artinya tahu bahwa itu hanya dipinjami oleh Tuhan dan diberi kesempatan yang mulia untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera lahir dan batin. Karena kepemimpinan itu amanah maka calon Bupati dan Wakil Bupati adalah orang yang hidup benar, baik melalui pikiran, perasaan, perkataan maupun tindakan.

Kesembilan, calon Bupati dan wakil Bupati tersebut adalah orang yang tegas dan memiliki keberanian moral. Ketegasan pemimpin diwujudkan dalam sikap tidak kompromi terhadap korupsi, kolusi dan nepotisme. Ketegasan menegakan hukum secara adil tanpa tebang pilih. Ketegasan pemimpin perlu disertai keberanian dan kemurnian hati.

Kesepuluh, melayani orang yang dipimpin. Pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati yang demikian adalah mereka yang mau merendahkan hatinya untuk melayani rakyatnya. Dia tidak suka dilayani. Hidupnya diberikan kepada orang lain agar orang lain bahagia. Kepuasan batinnya tidak pada kekuasaan atau keberhasilan program atau keberhasilan materi.

Sebagai kesimpulan untuk menampi calon Bupati dan Wakil Bupati dan menjadi pemilih yang cerdas maka ada beberapa point untuk mendapatkan calon yang ”bernas” yaitu apa yang pernah mereka lakukan untuk daerahnya? Bagaimana latar belakang pendidikannya? Apa visi, misi dan program kerjanya? Apa partai pengusungnya? Hati-hati dengan money politic atau serangan fajar.

(Penulis Adalah Bendahara DPD GAMKI Kalbar, Sekretaris PS GMKI Kalbar).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*